Senin, 20 April 2015

kode penyakit kejiwaan dan tingkah laku ICD10

F51      Kelainan tidur non-organik

Kelainan tidur sering merupakan gejala kelainan mental atau fisik. Kalau kelainan tidur adalah salah satu keluhan utama dan diyakini pasien sebagai penyakit tersendiri, maka kode ini harus digunakan bersama diagnosa lain yang menguraikan psikopatologi dan patofisiologi yang terlibat. Kategori ini hanya mencakup gangguan tidur yang faktor primernya adalah emosi.
F51.0   Insomnia non-organik
Keadaan dengan tidur yang tidak memuaskan dan telah berlangsung lama, misalnya susah tertidur, susah untuk tetap tidur, atau bangun lebih dini.
F51.1   Hypersomnia non-organik
Hipersomnia adalah keadaan dengan siang sangat mengantuk, serangan tidur, atau lamanya transisi dari bangun ke sadar penuh. Kalau tidak ada faktor organik yang mendasari, maka keadaan ini biasanya berhubungan dengan kelainan jiwa.
F51.2   Nonorganic disorder of the sleep-wake schedule
Tidak ada kesesuaian antara jadwal tidur-bangun dengan jadwal yang diinginkan pada lingkungan tertentu, sehingga menyebabkan insomnia atau hipersomnia.
F51.3   Sleepwalking [somnambulism]
Perubahan kesadaran sehingga fenomena tidur dan bangun bergabung. Pada episode ‘tidur berjalan’ ini pasien bangkit dari tempat tidur, biasanya pada sepertiga pertama tidur malam, dengan rendahnya tingkat keawasan, reaksi dan keterampilan otot. Setelah bangun biasanya ia tidak ingat kejadian tersebut.
F51.4   Sleep terrors [night terrors]
Episode terror dan panik di waktu malam dengan suara dan gerakan yang hebat dan aktifitas otonom yang tinggi. Pasien akan terduduk atau berdiri, biasanya pada sepertiga pertama tidur malam, dengan teriakan panik. Sering juga ia lari ke pintu seolah-olah ingin meloloskan diri, namun jarang meninggalkan kamar. Ingatan akan kejadian tersebut sangat terbatas (biasanya satu atau dua bayangan yang tidak utuh).
F51.5   Nightmares – mimpi buruk
Mimpi yang berisi rasa cemas dan takut, yang bisa diingat dengan jelas. Temanya sering mencakup ancaman nyawa, keamanan, atau harga diri. Biasanya pada episode tersebut terdapat aktifitas otonom, namun suara atau gerak tubuh tidak jelas. Pada waktu bangun ia dengan cepat sadar dan berorientasi ke kenyataan.
F51.8   Kelainan tidur nonorganik lainnya
F51.9   Kelainan tidur nonorganik, tidak dijelaskan

F52      Gangguan fungsi seksual tanpa kelainan atau penyakit organik

Mencakup berbagai keadaan yang berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan hubungan seksual seperti yang diinginkan. Respons seksual adalah proses psikosomatik. Dalam kelainan ini, proses psikologis dan somatik biasanya terlibat.
F52.0   Kurang atau hilangnya keinginan seksual – frigiditas, nafsu sex hipoaktif
F52.1   Penghindaran sex dan kurangnya kenikmatan seksual – anhedonia (sexual)
F52.2   Kegagalan respons genital – gangguan ereksi atau kekeringan vagina
F52.3   Gangguan fungsi orgasme - orgasme tidak terjadi atau tercapai sangat lama
F52.4   Ejakulasi prematur
F52.5   Vaginismus nonorganic – kejang otot sekitar sehingga vagina tertutup
F52.6   Dyspareunia nonorganik - nyeri selama hubungan seksual
F52.7   Nafsu seksual berlebihan – nymphomania (perempuan), satyriasis (laki-laki)
F52.8   Disfungsi seksual nonorganik lain
F52.9   Disfungsi seksual nonorganik, tidak dijelaskan

F53      Kelainan jiwa dan tingkah-laku pada puerperium, not elsewhere classified

Kelainan jiwa yang berhubungan dengan puerperium (muncul dalam waktu enam minggu setelah melahirkan) yang tidak bisa diklasifikasikan di tempat lain pada bab ini, baik karena informasi tidak cukup, atau karena adanya gambaran klinis khusus yang menyebabkan klasifikasinya di tempat lain tidak sesuai.
F53.0   Kelainan ringan – depresi postpartum
F53.1   Kelainan berat – psikosis puerperium NOS
F53.8   Kelainan lain
F53.9   Kelainan yang tidak dijelaskan

F54      Kelainan psikologis pada kelainan yang klasifikasinya di tempat lain

Kategori ini digunakan untuk mencatat pengaruh psikologis yang diduga berperanan dalam timbulnya kelainan fisik yang klasifikasinya pada bab lain. Termasuk disini faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi keadaan fisik.
Contoh penggunaan kategori ini adalah:  asthma F54 and J45.-; dermatitis F54 and L23-L25; gastric ulcer F54 and K25.-; mucous colitis F54 and K58.-; ulcerative colitis F54 and K51.-; urticaria F54 and L50.-

F55      Penyalahgunaan zat yang tidak menyebabkan ketergantungan

F59      Sindroma tingkah-laku akibat faktor fisiologis dan fisik yang tidak dijelaskan

F60-F69: Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa
Blok ini berisi berbagai keadaan dan pola-pola tingkah-laku yang nyata secara klinis dan cenderung menetap. Gejala ini muncul sebagai ekspresi gaya hidup seseorang dan caranya berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Beberapa dari gejala ini muncul dini pada perkembangan seseorang, dan yang lainnya didapatkan lebih lambat.
Kelainan kepribadian spesifik (F60), campuran (F61), dan perubahan kepribadian (F62) merupakan pola tingkah-laku yang tertanam dalam, dan muncul sebagai respons terhadap berbagai situasi. Mereka melambangkan pembelokan tajam dalam memahami, memikirkan, merasakan, dan terutama membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka sering berhubungan dengan distress subjektif dan masalah penampilan sosial.

F60      Kelainan kepribadian spesifik

Kekacauan berat kepribadian dan tingkah-laku, bukan akibat langsung gangguan otak atau kelainan psikiatrik lain. Biasanya melibatkan beberapa daerah kepribadian, berhubungan dengan ketegangan pribadi yang berat dan kerusakan hubungan sosial, dan muncul sejak kanak-kanak atau remaja.
F60.0   Gangguan kepribadian paranoid
Sangat sensitif akan kemunduran, tidak bisa memaafkan hinaan, curiga berlebihan, bersikap ‘siap tempur’ dan sangat menjaga hak-hak pribadi. Ia merasa dirinya sangat penting dan selalu membandingkan segala sesuatu dengan diri sendiri.
F60.1   Gangguan kepribadian skizoid
Khas dengan menarik diri dari hubungan yang akrab, sosial dan lainnya dan lebih menyukai khayalan, aktifitas sendiri, dan introspeksi.
F60.2   Gangguan kepribadian antisosial
Khas dengan tidak peduli akan kewajiban sosial dan perasaan orang lain. Disebut juga kepribadian amoral, anti sosial, asosial, psikopatik atau sosiopatik

F60.3   Kepribadian emosi labil
Bertendensi untuk bertindak tanpa memikir akibat, alam perasaan mudah berubah. emosi mudah meledak dan tidak terkontrol. Gejala lain adalah tendensi untuk merusak diri sendiri, atau bunuh diri. Disebut juga kepribadian agresif atau eksplosif
F60.4   Kepribadian histrionik
Alam perasaan dangkal dan labil, mendramatisir diri sendiri, ekspresi emosi berlebihan, mudah disugesti, egosentris, mudah tersinggung, dan selalu mencari pujian, rangsangan, dan perhatian. Disebut juga kepribadian histeris dan psikoinfantil
F60.5   Kepribadian anankastik
Selalu ragu-ragu; ingin serba sempurna (perfeksionisme), perhatian akan detail berlebihan; bandel, sangat hati-hati, dan kaku. Disebut juga kepribadian kompulsif, obsesif, obsesif-kompulsif
F60.6   Kepribadian hindaran atau cemas
Pasien memiliki perasaan tegang dan enggan, tidak percaya diri dan rendah diri. Selalu ingin disenangi dan diterima, sangat sensitif akan kritikan, dan bertendensi menghindari aktifitas rutin  tertentu dengan membesar-besarkan bahaya atau resikonya.
F60.7   Kepribadian tergantung
Tergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan, patuh pada keinginan orang yang lebih tua, dan respons yang lemah terhadap tuntutan kehidupan harian.
F60.8   Kelainan kepribadian lainnya
Kepribadian eksentrik, narcissistic, immatur, pasif agresif, psikoneurotik
F60.9   Kelainan kepribadian, tidak dijelaskan

F61      Kelainan kepribadian campuran dan lainnya

Kategori ini adalah untuk kelainan spesifik yang sering menimbulkan gangguan tapi tidak memiliki pola spesifik dari gejala-gejala pada F60.-.

F62      Perubahan kepribadian menetap, bukan karena kelainan otak

Gangguan kepribadian yang berkembang setelah stress berat atau penyakit jiwa yang berat. Perubahan kepribadian harus jelas dan tidak terdapat sebelum kejadian.
F62.0   Perubahan kepribadian menetap setelah stress berat
F62.1   Perubahan kepribadian menetap setelah sakit jiwa
F62.8   Perubahan kepribadian menetap lainnya
F62.9   Perubahan kepribadian menetap, tidak dijelaskan

F63      Kelainan kebiasaan dan dorongan

Khas dengan tindakan berulang tanpa motivasi yang rasional, tidak bisa dikontrol, dan umumnya merusak kepentingan pasien sendiri dan orang lain.
F63.0   Judi yang patologis
Kelainan ini berupa episode perjudian yang mendominasi kehidupan pasien sampai merusak nilai-nilai dan kewajiban sosial, pekerjaan, dan keluarga.
F63.1   Pembakaran yang patologis [pyromania]
Khas dengan usaha membakar tanpa motif yang jelas, dan pikiran tentang api dan kebakaran. Diawali peningkatan ketegangan sebelum, dan kepuasan dalam sesudah tindakan
F63.2   Mencuri yang patologis [kleptomania]
Kelainan dengan kegagalan menahan dorongan untuk mencuri objek yang tidak berguna untuk pribadi. Objek ini bisa dibuang, diberikan kepada orang lain, atau dikoleksikan. Terdapat ketegangan sebelum tindakan, dan sangat puas sesudahnya.
F63.3   Menarik rambut yang patologis (trichotillomania)
Khas dengan botak karena gagal menahan dorongan menarik rambut. Penarikan rambut didahului oleh ketegangan yang tinggi dan diikuti oleh perasaan lega atau puas.
F63.8   Kelainan kebiasaan dan dorongan lainnya
F63.9   Kelainan kebiasaan dan dorongan, tidak dijelaskan

F64      Kelainan identitas kelamin

F64.0   Transsexualisme
Khas dengan hasrat hidup sebagai anggota seks yang berlawanan, biasanya diikuti perasaan tidak nyaman atau tidak pantas pada kelompok seksnya sendiri, dan berharap memperoleh pembedahan dan pengobatan supaya tubuh sesuai dengan seks yang diinginkan
F64.1   Transvestisme peran-ganda
Memakai pakaian jenis seks lain untuk menikmati rasa menjadi anggota jenis seks tersebut, tanpa hasrat pergantian seks dan tidak diikuti oleh kepuasan seksual.
F64.2   Kelainan identitas kelamin kanak-kanak
Pertama muncul di masa kanak-kanak, ingin menjadi jenis seks yang berbeda. Pikiran selalu pada pakaian dan aktifitas jenis seks yang berbeda dan kesal akan jenis seks sendiri.
F64.8   Kelainan identitas kelamin lainnya
F64.9   Kelainan identitas kelamin, tidak dijelaskan

F65      Kelainan nafsu seksual

F65.0   Fetishisme
Mengandalkan benda mati (fetish) untuk rangsangan dan kepuasan seksual. Fetish sering merupakan bagian tambahan tubuh, misalnya pakaian atau sepatu. Contoh umum lainnya khas dengan ‘texture’ tertentu seperti karet, plastik atau kulit. Objek-objek fetish bisa hanya digunakan untuk meningkatkan rangsangan seksual (misalnya dengan partner yang mengenakan pakaian tertentu).
F65.1   Transvestisme fetish
Pemakaian pakaian jenis seks yang berlawanan untuk rangsangan seksual dan menciptakan penampilan jenis seks berbeda. Berbeda dari transvestisme trans-seksual, transvestisme fetish memiliki hubungan yang jelas dengan rangsangan seksual dan keinginan kuat untuk menanggalkan pakaian tersebut ketika orgasme telah dicapai. Keadaan ini bisa terjadi pada fase awal perkembangan trans-seksualisme.
F65.2   Exhibitionisme
Tendensi untuk memperlihatkan genitalia kepada jenis seks yang berbeda atau ke orang banyak di tempat umum, tanpa bermaksud mengadakan kontak seksual. Biasanya, tapi tidak selalu, rangsangan seksual pada waktu itu diikuti oleh masturbasi.
F65.3   Voyeurisme
Tendensi untuk mengintip orang yang sedang berhubungan seksual atau membuka baju. Dilakukan tanpa setahu objek, dan diikuti oleh rangsangan seksual dan masturbasi.
F65.4   Paedophilia
Nafsu seks pada anak lelaki dan/atau perempuan sebelum atau awal pubertas.
F65.5   Sadomasochisme
Aktifitas seksual yang melibatkan pemberian rasa nyeri, hinaan, atau ikatan. Keinginan sebagai penerima disebut masochisme; sebagai pemberi disebut sadisme.
F65.6   Kelainan ganda nafsu seksual
Lebih dari satu preferensi seksual abnormal dan tidak ada yang lebih menonjol. Kombinasi yang sering adalah fetishisme, transvestisme, dan sadomasochisme.
F65.8   Kelainan nafsu seksual lainnya
Melakukan telpon cabul, menggeserkan badan pada orang lain untuk rangsangan seks di tempat ramai; aktifitas seksual dengan binatang (zoophilia), mayat (necrophilia), dan penggunaan cekikan atau anoksia untuk meningkatkan rangsangan seksual.
F65.9   Kelainan nafsu seksual, tidak dijelaskan

F66      Kelainan yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual

Note:            Orientasi seksual saja tidak dianggap sebagai kelainan.
F66.0   Gangguan pematangan seksual
Pasien tidak yakin akan identitas gender atau orientasi seksualnya. Sering pada remaja yang tidak pasti apakah ia homo-, hetero- atau bi-seksual, atau pada orang dewasa yang setelah orientasi seksualnya terlihat stabil, mendapatkan bahwa orientasi seksualnya itu berubah.
F66.1   Orientasi seksual egodystonik
Identitas gender atau preferensi seksual (heterosexual, homosexual, bisexual, atau prepubertal) tidak diragukan, tapi ia berharap hal ini berbeda, dan mungkin mencari pengobatan untuk mengubahnya.
F66.2   Gangguan hubungan seksual
Identitas gender atau orientasi seksual (hetero-, homo-, atau bi-sexual) menyebabkan kesulitan dalam membentuk atau mempertahankan hubungan dengan pasangan seksualnya.
F66.8   Kelainan perkembangan psikoseksual lainnya
F66.9   Kelainan perkembangan psikoseksual, tidak dijelaskan

F68      Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa lainnya

F68.0   Penonjolan gejala fisik untuk alasan psikologis
Gejala-gejala fisik yang sudah pasti menjadi menonjol dan lama akibat keadaan psikologis. Pasien umumnya tertekan oleh gejala ini. Disebut juga neurosis kompensasi
F68.1   Menciptakan gejala atau cacad fisik atau psikologis
Pasien berulang-ulang menciptakan gejala tanpa alasan yang jelas, dan malah melukai diri sendiri untuk lebih meyakinkan. Motivasinya kabur dan mungkin untuk mengambil peran sebagai orang sakit. Disebut juga sindroma Munchhausen
F68.8   Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa lainnya yang dijelaskan

F69      Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa , tidak dijelaskan


F70-F79: Retardasi Mental
Perkembangan pikiran terhenti atau tidak sempurna, khas dengan kegagalan keterampilan pada masa perkembangan. Keterampilan ini ikut menentukan level kecerdasan umum seperti daya kognitif (pengenalan), bahasa, gerakan, dan sosial. Retardasi dapat terjadi dengan atau tanpa keadaan mental dan fisik lainnya.
Derajat retardasi mental diukur dengan alat uji kecerdasan yang distandarisasi. Ukuran ini memberi perkiraan derajat retardasi mental. Kemampuan intelektual dan adaptasi sosial bisa membaik sebagai hasil latihan dan rehabilitasi. Diagnosis harus didasarkan pada tingkat kemampuan fungsi saat pemeriksaan.
Subdivisi berikut digunakan untuk menunjukkan luasnya kerusakan tingkah laku.
.0          Kerusakan tingkah laku tidak ada atau minimal
.1          Kerusakan tingkah laku nyata dan memerlukan perhatian dan pengobatan.
.8          Kerusakan tingkah laku lain
.9          Kerusakan tingkah laku tidak disebutkan
Kalau perlu gunakan kode tambahan untuk keadaan lain yang berhubungan seperti autisma, gangguan perkembangan lain, epilepsi, kelainan perangai, atau cacad fisik yang berat.

F70      Retardasi mental ringan

IQ 50–69 (pada dewasa, usia mental 9–12 tahun). Cenderung menyebabkan kesulitan belajar di sekolah. Banyak dewasa dengan IQ ini masih mampu bekerja dan mempertahankan hubungan sosial yang baik dan berguna untuk masyarakat.

F71      Retardasi mental sedang

IQ 35–49 (pada dewasa, usia mental 6-9 tahun). Perkembangan terlambat di masa kanak-kanak, tapi umumnya bisa mengurus diri sendiri dengan komunikasi dan akademis yang memadai. Orang akan memerlukan berbagai sokongan untuk hidup dan bekerja di masyarakat.

F72      Retardasi mental berat

IQ 20-34 (pada dewasa, usia mental 3-6 tahun), cenderung membutuhkan sokongan terus menerus.

F73      Retardasi mental sangat berat

IQ di bawah 20 (pada dewasa, usia mental di bawah 3 tahun). Menyebabkan sulit merawat diri sendiri, buang air besar dan kecil, komunikasi dan gerakan.

F78      Retardasi mental lain

F79      Retardasi mental tidak dijelaskan


F80-F89: Kelainan perkembangan psikologis
Dimulai pada masa bayi atau kanak-kanak, berhubungan dengan pematangan sistem syaraf pusat, dan arah yang tetap tanpa remisi atau relaps. Fungsi yang terganggu mencakup bahasa, keterampilan visuo-spatial (penglihatan ruang), dan koordinasi gerak. Biasanya kerusakan berkurang ketika bertumbuh, walau pun defisit ringan sering ada pada usia dewasa.

F80      Kelainan perkembangan bicara dan bahasa

Pola normal berbahasa terganggu sejak awal perkembangan.. Sering sulit membaca dan mengeja, kelainan hubungan antar-pribadi, serta kelainan emosi dan tingkah laku.
F80.0   Gangguan artikulasi (membuat kata) waktu bicara
Penggunaan artikulasi di bawah level yang sesuai untuk usia, tapi keterampilan bahasa normal. Disebut juga dyslalia
F80.1   Gangguan bahasa ekspresif
Penggunaan ekspresi bahasa rendah, tapi pemahaman normal. Bisa diikuti kelainan artikulasi. Disebut juga dysphasia atau aphasia perkembangan jenis ekspresif
F80.2   Gangguan bahasa reseptif
Pemahaman bahasa rendah, diikuti gangguan bahasa ekspresi dan artikulasi. Disebut juga dysphasia, aphasia perkembangan jenis reseptif, aphasia Wernicke, dan “tuli kata-kata”
F80.3   Aphasia didapat dengan epilepsy [Landau-Kleffner]
Perkembangan bahasa mulanya normal, lalu kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif menghilang, dengan inteligensia umum baik. Awalnya disertai oleh kelainan otak atau epilepsi. Onset biasanya antara usia 3-7 tahun.
F80.8   Kelainan perkembangan bicara dan bahasa lainnya
Lisping (susah mengeluarkan huruf ‘s’ dan menggantinya dengan ‘ts’
F80.9   Kelainan perkembangan bicara dan bahasa, tidak dijelaskan

F81      Kelainan perkembangan keterampilan sekolah

Kelainan dengan gangguan keterampilan sejak tingkat awal perkembangan. Hal ini bukan karena kurangnya kesempatan belajar, tidak semata-mata akibat retardasi mental, dan tidak akibat trauma atau penyakit pada otak.
F81.0   Kelainan khusus membaca - dyslexia perkembangan
F81.1   Kelainan khusus mengeja
F81.2   Kelainan khusus keterampilan berhitung
F81.3   Kelainan keterampilan sekolah campuran
F81.8   Kelainan perkembangan keterampilan sekolah lainnya
F81.9   Kelainan perkembangan keterampilan sekolah, tidak dijelaskan

F82      Kelainan perkembangan fungsi gerak

Kelainan dengan gambaran utama kegagalan serius perkembangan koordinasi motorik yang tidak bisa hanya dijelaskan oleh retardasi intelektual umum atau kelainan neurologis baik kongenital atau didapat.

F83      Kelainan perkembangan campuran

Kategori sisa yang berisi campuran gangguan perkembangan spesifik bicara dan bahasa, keterampilan belajar, dan fungsi motoris, tapi tidak ada yang lebih menonjol untuk diagnosa utama. Kategori ini dipakai kalau gangguan fungsi memenuhi kriteria untuk dua atau lebih dari F80, F81, dan F82.

F84      Kelainan perkembangan ‘pervasif’

Khas dengan kelainan interaksi sosial timbal-balik dan pola komunikasi, dan oleh minat dan aktifitas yang terbatas, berbentuk khas, dan berulang-ulang. Kelainan ini merupakan bentuk pervasif fungsi seseorang dalam semua situasi.
F84.0   Autisma kanak-kanak
Ditentukan oleh adanya perkembangan abnormal sebelum usia tiga tahun, dan ciri-ciri khas fungsi abnormal pada ketiga area psikopatologi (interaksi sosial timbal-balik, komunikasi, dan tingkah laku yang terbatas, khas dan berulang).
F84.1   Autisma tidak khas
Berbeda dari autisma kanak-kanak dalam usia onset atau tidak terpenuhinya ketiga set kriteria diagnosa.
F84.2   Sindroma Rett
Pada anak perempuan, perkembangan awal normal lalu diikuti penurunan kemampuan bicara, keterampilan gerakan dan penggunaan tangan, bersama dengan perlambatan pertumbuhan kepala, biasanya dengan onset antara usia 7-24 bulan.
F84.3   Kelainan disintegrasi kanak-kanak lainnya
Periode perkembangan yang normal sebelum onset kelainan, diikuti oleh hilangnya keterampilan yang telah diperoleh dalam waktu beberapa bulan saja.
F84.4   Kelainan overaktif sehubungan dengan retardasi mental dan gerakan stereotype
Kategori ini melibatkan anak-anak dengan retardasi mental berat (IQ <34) dengan masalah utama pada hiperaktifitas dan perhatian, di samping tingkah laku stereotype.
F84.5   Sindroma Asperger
Interaksi sosial seperti autisma, minat dan aktifitas terbatas, stereotype, dan berulang. Tidak terdapat retardasi perkembangan bahasa atau kognitif. Kelainan ini sering berhubungan dengan gerakan yang kacau.
F84.8   Kelainan perkembangan ‘pervasif’ lainnya
F84.9   Kelainan perkembangan ‘pervasif’, tidak dijelaskan

F88      Gangguan perkembangan psikologis lainnya - agnosia perkembangan

F89      Gangguan perkembangan psikologis yang tidak dijelaskan


F90-F98: Kelainan tingkah laku dan emosi dengan awal biasanya pada masa kanak-kanak dan remaja

F90      Kelainan hiperkinetik

Onset dini (biasanya balita), kurangnya usaha aktifitas kognitif, suka berganti aktifitas tanpa penyelesaian, dan aktifitas tidak teratur dan berlebihan.. Tidak memiliki rasa sungkan pada orang dewasa, tidak disukai oleh anak lain dan mungkin tersisih. Terdapat kegagalan fungsi kognitif umum, dan keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa.
F90.0   Kekacauan aktifitas dan perhatian
F90.1   Kelainan hiperkinetik disertai kelainan perangai
F90.8   Kelainan hiperkinetik lain
F90.9   Kelainan hiperkinetik, tidak dijelaskan

F91      Kelainan perangai (conduct disorders)

Pola kelakuan dissosial, agresif, atau bandel yang berulang dan persisten, yang lebih berat daripada kenakalan anak-anak atau remaja, berlangsung lama (enam bulan atau lebih). Contohnya berkelahi atau menjajah (‘bullying’) yang berlebihan, kasar pada orang lain atau binatang, merusak harta benda, membakar, mencuri, berbohong, bolos sekolah dan lari dari rumah, temper tantrum sangat sering dan berat, dan tidak patuh. Satu saja dari tingkah laku ini, kalau menonjol, cukup untuk menegakkan diagnosa.
F91.0   Kelainan perangai yang hanya di dalam keluarga
Agresif (juga melawan, bandel dan disruptif [menghambat kegiatan]) yang hampir selalu terjadi di rumah dan dengan anggota keluarga inti atau anggota di rumah tangga.
F91.1   Kelainan perangai tanpa sosialisasi
Khas dengan kombinasi tingkah laku dissosial atau agresif dengan pervasif yang nyata dalam hubungannya dengan anak-anak lain.
F91.2   Kelainan perangai sosialisasi
Mencakup tingkah laku dissosial atau agresif pada orang-orang yang umumnya menyatu dengan baik dengan teman sebayanya.
F91.3   Kelainan bandel oposisional
Kelainan perangai khas dengan tingkah laku melawan, tidak patuh atau disruptif tapi tidak melibatkan tindakan yang lebih ekstrim.
F91.8   Kelainan perangai lainnya
F91.9   Kelainan perangai, tidak dijelaskan

F92      Kelainan campuran perangai dan emosi

Kelompok kelainan yang khas dengan kombinasi tingkah laku agresif, dissosial atau bandel, dengan gejala-gejala nyata depresi, cemas atau gangguan emosi lain.
F92.0   Kelainan perangai depresif
Kombinasi kelainan perangai (F91.-) dengan depresi (F32.-), kehilangan minat akan aktifitas, menyalahkan diri, dan putus asa. Bisa terdapat gangguan tidur atau selera makan.
F92.8   Kelainan perangai dan emosi campuran lainnya
Kombinasi kelainan perangai (F91.-) dengan gejala emosi yang persisten dan nyata seperti cemas, obsesi atau kompulsi, depersonalisasi atau derealisasi, fobia, atau hipokondria.
F92.9   Kelainan perangai dan emosi campuran, tidak dijelaskan

F93      Kelainan emosi dengan onset pada masa kanak-kanak

Terutama pemberatan terhadap trend perkembangan normal, bukan fenomena abnormal itu sendiri. Kesesuaian perkembangan digunakan sebagai gambaran kunci dalam perbedaan kelainan emosi ini dari kelainan neurosis (F40-F48).
F93.0   Kelainan cemas perpisahan pada anak
Didiagnosa kalau takut berpisah merupakan fokus kecemasan dan kecemasan tersebut muncul pertama kali pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak.
F93.1   Kelainan cemas fobia pada anak
Ketakutan masa kanak-kanak yang menunjukkan kespesifikan fase perkembangan dan terdapat pada sebagian besar anak, tapi derajatnya abnormal.
F93.2   Kelainan cemas sosial anak
Disini terdapat kekhawatiran akan orang asing dan keengganan sosial, atau cemas kalau bertemu dengan situasi yang baru, asing, atau secara sosial mengancam. Misalnya kelainan hindaran masa kanak-kanak dan remaja
F93.3   Kelainan persaingan pada saudara
Kekacauan emosi yang biasanya mengikuti kelahiran adik diperlihatkan oleh sebagian besar anak yang masih kecil. Disebut juga “Sibling jealousy”
F93.8   Kelainan emosi kanak-kanak lainnya
F93.9   Kelainan perangai dan emosi campuran, tidak dijelaskan

F94      Kelainan fungsi sosial yang dimulai di masa kanak-kanak atau remaja

Merupakan kelompok yang memiliki kelainan fungsi sosial sama yang dimulai sewaktu perkembangan, tapi tidak melibatkan semua area fungsi sosial. Distorsi lingkungan yang serius mungkin memainkan peranan penting dalam etiologi sebagian besar kasus.
F94.0   Mutisme elektif
Keadaan ‘bisu elektif’ ini khas dengan selektifnya kemampuan bicara yang ditentukan oleh emosi, misalnya anak mampu berbicara pada satu situasi namun tidak bisa bicara pada situasi (tertentu) lainnya.
F94.1   Kelainan tambahan bersifat reaktif pada anak
Dimulai pada usia balita dan khas dengan kelainan persisten hubungan sosial.
F94.2   Kelainan tambahan anak-anak bersifat disinhibisi (tanpa hambatan)
Merupakan pola fungsi sosial abnormal yang muncul pada usia balita dan cenderung bertahan walau pun keadaan lingkungan telah berubah.
F94.8   Kelainan fungsi sosial masa kanak-kanak lainnya
F94.9   Kelainan fungsi sosial masa kanak-kanak, tidak dijelaskan

F95      Kelainan Tic

Manifestasi utama suatu bentuk ‘tic’, yaitu gerakan motor yang tidak berirama atau suara tiba-tiba dan tanpa tujuan. Tic motorik umum sederhana hanya melibatkan pengedipan mata, getaran leher, mengangkat bahu, dan mengerutkan wajah. Tic vokalis umum sederhana mencakup pembersihan tenggorok, menghardik, membau-bau, dan mendesis.
F95.0   Kelainan tic sementara
Tic berlangsung kurang dari 12 bulan. biasanya berbentuk kedipan mata, kerutan wajah, dan getaran kepala.
F95.1   Kelainan tic motor atau vocal kronis
Berupa tic motorik atau vokal tapi tidak keduanya, yang masing-masing bisa tunggal atau ganda, dan berlangsung lebih dari satu tahun.
F95.2   Kelainan tic motor atau vocal gabungan [de la Tourette]
Suatu bentuk kelainan tic dengan satu atau lebih tic vokal, yang tidak harus muncul bersamaan. Biasanya makin berat selama remaja dan cenderung menetap di usia dewasa. Tic vokal sering muncul ganda dengan vokalisasi berulang yang meledak-ledak, pembersihan tenggorokan, dan menyumpah, dan bisa dengan penggunaan kata-kata atau ungkapan cabul. Bisa terdapat ‘echopraxia’ dengan gerakan badan yang bisa saja bersifat cabul (copropraxia)
F95.8   Kelainan tic lainnya
F95.9   Kelainan tic, tidak dijelaskan

F98      Kelainan tingkah laku dan emosi lain dengan awalnya anak atau remaja

Kelompok kelainan heterogen yang memiliki onset di masa kanak-kanak. Beberapa dari keadaan ini mewakili sindroma yang sudah jelas, namun pada yang lain tidak lebih daripada kompleks gejala yang perlu dimasukkan karena keseringannya dan hubungannya dengan masalah psikososial, dan karena tidak bisa dimasukkan ke dalam sindroma lain.
F98.0   Enuresis non-organik
Khas dengan kencing di luar kesadaran baik siang atau malam, tidak sesuai dengan usia mentalnya, dan tidak karena kurangnya kontrol ‘bladder’ akibat kelainan neurologis, serangan epilepsi, atau kelainan struktur saluran kencing.
F98.1   Enkopresis nonorganis
Berak berulang baik sadar atau tidak, dengan kepadatan normal atau mendekati normal, pada tempat yang tidak sesuai dengan setting sosiokultural.
F98.2   Feeding disorder of infancy and childhood
Kelainan pemberian makanan pada masa bayi atau kanak-kanak kecil.
F98.3   Pica pada bayi dan anak
Memakan zat-zat bukan makanan (seperti tanah, cat, pecahan kayu, dsb.) secara persisten. Ini bisa merupakan bagian dari kelainan psikiatrik yang lebih luas (misalnya autisma), atau tingkah laku psikopatologis terpisah seperti pada klasifikasi ini.
F98.4   Kelainan gerakan stereotypical
Gerakan sadar, berulang, stereotype, tanpa fungsi (dan sering berirama) yang bukan bagian dari keadaan psikiatrik atau neurologis yang dikenal. Gerakan yang tidak membahayakan diri sendiri antara lain ‘body-rocking’, ‘head rocking’, mencabut rambut, memutar rambut, ‘finger-flicking’, dan ‘hand-flapping’.
F98.5   Stuttering [stammering] - gagap
Bicara khas dengan pengulangan atau pemanjangan suara suku kata atau kata, atau oleh seringnya keraguan atau penghentian yang mengganggu alur irama bicara.
F98.6   Cluttering
Bicara yang cepat dengan gangguan kelancaran, tapi tidak disertai pengulangan atau keraguan, yang beratnya sampai menyebabkan pembicaraan tidak bisa dimengerti. Bicara sering salah dan tidak berirama, dengan getaran-getaran cepat yang biasanya menunjukkan pola kalimat yang tidak benar.
F98.8   Kelainan emosi dan tingkah laku dengan onset kanak-kanak dan remaja
F98.9   Kelainan emosi dan tingkah laku dengan onset kanak-kanak dan remaja
Kelainan tingkah laku dan emosional yang tidak dijelaskan, dengan onset biasanya di masa kanak-kanak dan remaja
F99: Kelainan Mental yang Tidak dijelaskan

F99      Kelainan mental, tidak dijelaskan


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar