F51 Kelainan tidur non-organik
Kelainan tidur sering
merupakan gejala kelainan mental atau fisik. Kalau kelainan tidur adalah salah
satu keluhan utama dan diyakini pasien sebagai penyakit tersendiri, maka kode
ini harus digunakan bersama diagnosa lain yang menguraikan psikopatologi dan
patofisiologi yang terlibat. Kategori ini hanya mencakup gangguan tidur yang
faktor primernya adalah emosi.
F51.0 Insomnia non-organik
Keadaan dengan tidur
yang tidak memuaskan dan telah berlangsung lama, misalnya susah tertidur, susah
untuk tetap tidur, atau bangun lebih dini.
F51.1 Hypersomnia non-organik
Hipersomnia adalah
keadaan dengan siang sangat mengantuk, serangan tidur, atau lamanya transisi
dari bangun ke sadar penuh. Kalau tidak ada faktor organik yang mendasari, maka
keadaan ini biasanya berhubungan dengan kelainan jiwa.
F51.2 Nonorganic
disorder of the sleep-wake schedule
Tidak ada kesesuaian antara jadwal tidur-bangun dengan jadwal
yang diinginkan pada lingkungan tertentu, sehingga menyebabkan insomnia atau
hipersomnia.
F51.3 Sleepwalking
[somnambulism]
Perubahan kesadaran sehingga fenomena tidur dan bangun
bergabung. Pada episode ‘tidur berjalan’ ini pasien bangkit dari tempat tidur,
biasanya pada sepertiga pertama tidur malam, dengan rendahnya tingkat keawasan,
reaksi dan keterampilan otot. Setelah bangun biasanya ia tidak ingat kejadian
tersebut.
F51.4 Sleep terrors
[night terrors]
Episode terror dan
panik di waktu malam dengan suara dan gerakan yang hebat dan aktifitas otonom
yang tinggi. Pasien akan terduduk atau berdiri, biasanya pada sepertiga pertama
tidur malam, dengan teriakan panik. Sering juga ia lari ke pintu seolah-olah
ingin meloloskan diri, namun jarang meninggalkan kamar. Ingatan akan kejadian
tersebut sangat terbatas (biasanya satu atau dua bayangan yang tidak utuh).
F51.5 Nightmares – mimpi buruk
Mimpi yang berisi
rasa cemas dan takut, yang bisa diingat dengan jelas. Temanya sering mencakup
ancaman nyawa, keamanan, atau harga diri. Biasanya pada episode tersebut
terdapat aktifitas otonom, namun suara atau gerak tubuh tidak jelas. Pada waktu
bangun ia dengan cepat sadar dan berorientasi ke kenyataan.
F51.8 Kelainan tidur nonorganik lainnya
F51.9 Kelainan tidur nonorganik, tidak dijelaskan
F52 Gangguan fungsi seksual tanpa kelainan atau penyakit organik
Mencakup berbagai
keadaan yang berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan hubungan seksual
seperti yang diinginkan. Respons seksual adalah proses psikosomatik. Dalam
kelainan ini, proses psikologis dan somatik biasanya terlibat.
F52.0 Kurang atau hilangnya keinginan seksual –
frigiditas, nafsu sex hipoaktif
F52.1 Penghindaran sex dan kurangnya kenikmatan
seksual – anhedonia (sexual)
F52.2 Kegagalan respons genital – gangguan ereksi
atau kekeringan vagina
F52.3 Gangguan fungsi orgasme - orgasme tidak
terjadi atau tercapai sangat lama
F52.4 Ejakulasi prematur
F52.5 Vaginismus nonorganic – kejang otot sekitar
sehingga vagina tertutup
F52.6 Dyspareunia nonorganik - nyeri selama
hubungan seksual
F52.7 Nafsu seksual berlebihan – nymphomania
(perempuan), satyriasis (laki-laki)
F52.8 Disfungsi seksual nonorganik lain
F52.9 Disfungsi seksual nonorganik, tidak
dijelaskan
F53 Kelainan jiwa dan tingkah-laku pada puerperium, not elsewhere
classified
Kelainan jiwa yang
berhubungan dengan puerperium (muncul dalam waktu enam minggu setelah
melahirkan) yang tidak bisa diklasifikasikan di tempat lain pada bab ini, baik
karena informasi tidak cukup, atau karena adanya gambaran klinis khusus yang
menyebabkan klasifikasinya di tempat lain tidak sesuai.
F53.0 Kelainan ringan – depresi postpartum
F53.1 Kelainan berat – psikosis puerperium NOS
F53.8 Kelainan lain
F53.9 Kelainan yang tidak dijelaskan
F54 Kelainan psikologis pada kelainan yang klasifikasinya di tempat
lain
Kategori ini
digunakan untuk mencatat pengaruh psikologis yang diduga berperanan dalam
timbulnya kelainan fisik yang klasifikasinya pada bab lain. Termasuk disini
faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi keadaan fisik.
Contoh penggunaan
kategori ini adalah: asthma F54 and
J45.-; dermatitis F54 and L23-L25; gastric ulcer F54 and K25.-; mucous colitis
F54 and K58.-; ulcerative colitis F54 and K51.-; urticaria F54 and L50.-
F55 Penyalahgunaan zat yang tidak menyebabkan ketergantungan
F59 Sindroma tingkah-laku akibat faktor fisiologis dan fisik yang
tidak dijelaskan
F60-F69: Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa
Blok ini berisi
berbagai keadaan dan pola-pola tingkah-laku yang nyata secara klinis dan
cenderung menetap. Gejala ini muncul sebagai ekspresi gaya hidup seseorang dan
caranya berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Beberapa dari gejala ini
muncul dini pada perkembangan seseorang, dan yang lainnya didapatkan lebih
lambat.
Kelainan kepribadian
spesifik (F60), campuran (F61), dan perubahan kepribadian (F62) merupakan pola
tingkah-laku yang tertanam dalam, dan muncul sebagai respons terhadap berbagai
situasi. Mereka melambangkan pembelokan tajam dalam memahami, memikirkan,
merasakan, dan terutama membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka sering
berhubungan dengan distress subjektif dan masalah penampilan sosial.
F60 Kelainan kepribadian spesifik
Kekacauan berat
kepribadian dan tingkah-laku, bukan akibat langsung gangguan otak atau kelainan
psikiatrik lain. Biasanya melibatkan beberapa daerah kepribadian, berhubungan
dengan ketegangan pribadi yang berat dan kerusakan hubungan sosial, dan muncul
sejak kanak-kanak atau remaja.
F60.0 Gangguan kepribadian paranoid
Sangat sensitif akan
kemunduran, tidak bisa memaafkan hinaan, curiga berlebihan, bersikap ‘siap
tempur’ dan sangat menjaga hak-hak pribadi. Ia merasa dirinya sangat penting
dan selalu membandingkan segala sesuatu dengan diri sendiri.
F60.1 Gangguan kepribadian skizoid
Khas dengan menarik
diri dari hubungan yang akrab, sosial dan lainnya dan lebih menyukai khayalan,
aktifitas sendiri, dan introspeksi.
F60.2 Gangguan kepribadian antisosial
Khas dengan tidak
peduli akan kewajiban sosial dan perasaan orang lain. Disebut juga kepribadian
amoral, anti sosial, asosial, psikopatik atau sosiopatik
F60.3 Kepribadian emosi labil
Bertendensi untuk
bertindak tanpa memikir akibat, alam perasaan mudah berubah. emosi mudah
meledak dan tidak terkontrol. Gejala lain adalah tendensi untuk merusak diri
sendiri, atau bunuh diri. Disebut juga kepribadian agresif atau eksplosif
F60.4 Kepribadian histrionik
Alam perasaan
dangkal dan labil, mendramatisir diri sendiri, ekspresi emosi berlebihan, mudah
disugesti, egosentris, mudah tersinggung, dan selalu mencari pujian,
rangsangan, dan perhatian. Disebut juga kepribadian histeris dan psikoinfantil
F60.5 Kepribadian anankastik
Selalu ragu-ragu;
ingin serba sempurna (perfeksionisme), perhatian akan detail berlebihan;
bandel, sangat hati-hati, dan kaku. Disebut juga kepribadian kompulsif,
obsesif, obsesif-kompulsif
F60.6 Kepribadian hindaran atau cemas
Pasien memiliki
perasaan tegang dan enggan, tidak percaya diri dan rendah diri. Selalu ingin
disenangi dan diterima, sangat sensitif akan kritikan, dan bertendensi
menghindari aktifitas rutin tertentu
dengan membesar-besarkan bahaya atau resikonya.
F60.7 Kepribadian tergantung
Tergantung pada
orang lain dalam mengambil keputusan, patuh pada keinginan orang yang lebih
tua, dan respons yang lemah terhadap tuntutan kehidupan harian.
F60.8 Kelainan kepribadian lainnya
Kepribadian
eksentrik, narcissistic, immatur, pasif agresif, psikoneurotik
F60.9 Kelainan kepribadian, tidak dijelaskan
F61 Kelainan kepribadian campuran dan lainnya
Kategori ini adalah
untuk kelainan spesifik yang sering menimbulkan gangguan tapi tidak memiliki
pola spesifik dari gejala-gejala pada F60.-.
F62 Perubahan kepribadian menetap, bukan karena kelainan otak
Gangguan kepribadian
yang berkembang setelah stress berat atau penyakit jiwa yang berat. Perubahan kepribadian harus jelas dan
tidak terdapat sebelum kejadian.
F62.0 Perubahan kepribadian menetap setelah stress
berat
F62.1 Perubahan kepribadian menetap setelah sakit
jiwa
F62.8 Perubahan kepribadian menetap lainnya
F62.9 Perubahan kepribadian menetap, tidak
dijelaskan
F63 Kelainan kebiasaan dan dorongan
Khas dengan tindakan
berulang tanpa motivasi yang rasional, tidak bisa dikontrol, dan umumnya merusak
kepentingan pasien sendiri dan orang lain.
F63.0 Judi yang patologis
Kelainan ini berupa
episode perjudian yang mendominasi kehidupan pasien sampai merusak nilai-nilai
dan kewajiban sosial, pekerjaan, dan keluarga.
F63.1 Pembakaran yang patologis [pyromania]
Khas dengan usaha
membakar tanpa motif yang jelas, dan pikiran tentang api dan kebakaran. Diawali
peningkatan ketegangan sebelum, dan kepuasan dalam sesudah tindakan
F63.2 Mencuri yang patologis [kleptomania]
Kelainan dengan
kegagalan menahan dorongan untuk mencuri objek yang tidak berguna untuk
pribadi. Objek ini bisa dibuang, diberikan kepada orang lain, atau
dikoleksikan. Terdapat ketegangan sebelum tindakan, dan sangat puas sesudahnya.
F63.3 Menarik rambut yang patologis
(trichotillomania)
Khas dengan botak
karena gagal menahan dorongan menarik rambut. Penarikan rambut didahului oleh
ketegangan yang tinggi dan diikuti oleh perasaan lega atau puas.
F63.8 Kelainan kebiasaan dan dorongan lainnya
F63.9 Kelainan kebiasaan dan dorongan, tidak
dijelaskan
F64 Kelainan identitas kelamin
F64.0 Transsexualisme
Khas dengan hasrat
hidup sebagai anggota seks yang berlawanan, biasanya diikuti perasaan tidak
nyaman atau tidak pantas pada kelompok seksnya sendiri, dan berharap memperoleh
pembedahan dan pengobatan supaya tubuh sesuai dengan seks yang diinginkan
F64.1 Transvestisme peran-ganda
Memakai pakaian
jenis seks lain untuk menikmati rasa menjadi anggota jenis seks tersebut, tanpa
hasrat pergantian seks dan tidak diikuti oleh kepuasan seksual.
F64.2 Kelainan identitas kelamin kanak-kanak
Pertama muncul di
masa kanak-kanak, ingin menjadi jenis seks yang berbeda. Pikiran selalu pada
pakaian dan aktifitas jenis seks yang berbeda dan kesal akan jenis seks
sendiri.
F64.8 Kelainan identitas kelamin lainnya
F64.9 Kelainan identitas kelamin, tidak dijelaskan
F65 Kelainan nafsu seksual
F65.0 Fetishisme
Mengandalkan benda
mati (fetish) untuk rangsangan dan kepuasan seksual. Fetish sering merupakan
bagian tambahan tubuh, misalnya pakaian atau sepatu. Contoh umum lainnya khas
dengan ‘texture’ tertentu seperti karet, plastik atau kulit. Objek-objek fetish
bisa hanya digunakan untuk meningkatkan rangsangan seksual (misalnya dengan
partner yang mengenakan pakaian tertentu).
F65.1 Transvestisme fetish
Pemakaian pakaian
jenis seks yang berlawanan untuk rangsangan seksual dan menciptakan penampilan
jenis seks berbeda. Berbeda dari transvestisme trans-seksual, transvestisme
fetish memiliki hubungan yang jelas dengan rangsangan seksual dan keinginan
kuat untuk menanggalkan pakaian tersebut ketika orgasme telah dicapai. Keadaan
ini bisa terjadi pada fase awal perkembangan trans-seksualisme.
F65.2 Exhibitionisme
Tendensi untuk
memperlihatkan genitalia kepada jenis seks yang berbeda atau ke orang banyak di
tempat umum, tanpa bermaksud mengadakan kontak seksual. Biasanya, tapi tidak
selalu, rangsangan seksual pada waktu itu diikuti oleh masturbasi.
F65.3 Voyeurisme
Tendensi untuk
mengintip orang yang sedang berhubungan seksual atau membuka baju. Dilakukan
tanpa setahu objek, dan diikuti oleh rangsangan seksual dan masturbasi.
F65.4 Paedophilia
Nafsu seks pada anak
lelaki dan/atau perempuan sebelum atau awal pubertas.
F65.5 Sadomasochisme
Aktifitas seksual
yang melibatkan pemberian rasa nyeri, hinaan, atau ikatan. Keinginan sebagai
penerima disebut masochisme; sebagai pemberi disebut sadisme.
F65.6 Kelainan ganda nafsu seksual
Lebih dari satu
preferensi seksual abnormal dan tidak ada yang lebih menonjol. Kombinasi yang
sering adalah fetishisme, transvestisme, dan sadomasochisme.
F65.8 Kelainan nafsu seksual lainnya
Melakukan telpon
cabul, menggeserkan badan pada orang lain untuk rangsangan seks di tempat
ramai; aktifitas seksual dengan binatang (zoophilia), mayat (necrophilia), dan
penggunaan cekikan atau anoksia untuk meningkatkan rangsangan seksual.
F65.9 Kelainan nafsu seksual, tidak dijelaskan
F66 Kelainan yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi
seksual
Note: Orientasi seksual saja tidak
dianggap sebagai kelainan.
F66.0 Gangguan pematangan seksual
Pasien tidak yakin
akan identitas gender atau orientasi seksualnya. Sering pada remaja yang tidak
pasti apakah ia homo-, hetero- atau bi-seksual, atau pada orang dewasa yang
setelah orientasi seksualnya terlihat stabil, mendapatkan bahwa orientasi
seksualnya itu berubah.
F66.1 Orientasi seksual egodystonik
Identitas gender
atau preferensi seksual (heterosexual, homosexual, bisexual, atau prepubertal)
tidak diragukan, tapi ia berharap hal ini berbeda, dan mungkin mencari
pengobatan untuk mengubahnya.
F66.2 Gangguan hubungan seksual
Identitas gender
atau orientasi seksual (hetero-, homo-, atau bi-sexual) menyebabkan kesulitan
dalam membentuk atau mempertahankan hubungan dengan pasangan seksualnya.
F66.8 Kelainan perkembangan psikoseksual lainnya
F66.9 Kelainan perkembangan psikoseksual, tidak
dijelaskan
F68 Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa lainnya
F68.0 Penonjolan gejala fisik untuk alasan
psikologis
Gejala-gejala fisik
yang sudah pasti menjadi menonjol dan lama akibat keadaan psikologis. Pasien
umumnya tertekan oleh gejala ini. Disebut juga neurosis kompensasi
F68.1 Menciptakan gejala atau cacad fisik atau
psikologis
Pasien
berulang-ulang menciptakan gejala tanpa alasan yang jelas, dan malah melukai
diri sendiri untuk lebih meyakinkan. Motivasinya kabur dan mungkin untuk
mengambil peran sebagai orang sakit. Disebut juga sindroma Munchhausen
F68.8 Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa
lainnya yang dijelaskan
F69 Kelainan kepribadian dan tingkah laku dewasa , tidak dijelaskan
F70-F79: Retardasi Mental
Perkembangan pikiran
terhenti atau tidak sempurna, khas dengan kegagalan keterampilan pada masa
perkembangan. Keterampilan ini ikut menentukan level kecerdasan umum seperti
daya kognitif (pengenalan), bahasa, gerakan, dan sosial. Retardasi dapat
terjadi dengan atau tanpa keadaan mental dan fisik lainnya.
Derajat retardasi
mental diukur dengan alat uji kecerdasan yang distandarisasi. Ukuran ini
memberi perkiraan derajat retardasi mental. Kemampuan intelektual dan adaptasi
sosial bisa membaik sebagai hasil latihan dan rehabilitasi. Diagnosis harus
didasarkan pada tingkat kemampuan fungsi saat pemeriksaan.
Subdivisi berikut
digunakan untuk menunjukkan luasnya kerusakan tingkah laku.
.0 Kerusakan tingkah laku tidak ada atau
minimal
.1 Kerusakan tingkah laku nyata dan
memerlukan perhatian dan pengobatan.
.8 Kerusakan tingkah laku lain
.9 Kerusakan tingkah laku tidak
disebutkan
Kalau perlu gunakan
kode tambahan untuk keadaan lain yang berhubungan seperti autisma, gangguan
perkembangan lain, epilepsi, kelainan perangai, atau cacad fisik yang berat.
F70 Retardasi mental ringan
IQ 50–69 (pada
dewasa, usia mental 9–12 tahun). Cenderung menyebabkan kesulitan belajar di
sekolah. Banyak dewasa dengan IQ ini masih mampu bekerja dan mempertahankan
hubungan sosial yang baik dan berguna untuk masyarakat.
F71 Retardasi mental sedang
IQ 35–49 (pada
dewasa, usia mental 6-9 tahun). Perkembangan terlambat di masa kanak-kanak,
tapi umumnya bisa mengurus diri sendiri dengan komunikasi dan akademis yang
memadai. Orang akan memerlukan berbagai sokongan untuk hidup dan bekerja di
masyarakat.
F72 Retardasi mental berat
IQ 20-34 (pada
dewasa, usia mental 3-6 tahun), cenderung membutuhkan sokongan terus menerus.
F73 Retardasi mental sangat berat
IQ di bawah 20 (pada
dewasa, usia mental di bawah 3 tahun). Menyebabkan sulit merawat diri sendiri,
buang air besar dan kecil, komunikasi dan gerakan.
F78 Retardasi mental lain
F79 Retardasi mental tidak dijelaskan
F80-F89: Kelainan perkembangan psikologis
Dimulai pada masa
bayi atau kanak-kanak, berhubungan dengan pematangan sistem syaraf pusat, dan
arah yang tetap tanpa remisi atau relaps. Fungsi yang terganggu mencakup
bahasa, keterampilan visuo-spatial (penglihatan ruang), dan koordinasi gerak.
Biasanya kerusakan berkurang ketika bertumbuh, walau pun defisit ringan sering
ada pada usia dewasa.
F80 Kelainan perkembangan bicara dan bahasa
Pola normal
berbahasa terganggu sejak awal perkembangan.. Sering sulit membaca dan mengeja,
kelainan hubungan antar-pribadi, serta kelainan emosi dan tingkah laku.
F80.0 Gangguan artikulasi (membuat kata) waktu
bicara
Penggunaan
artikulasi di bawah level yang sesuai untuk usia, tapi keterampilan bahasa
normal. Disebut juga dyslalia
F80.1 Gangguan bahasa ekspresif
Penggunaan ekspresi
bahasa rendah, tapi pemahaman normal. Bisa diikuti kelainan artikulasi. Disebut
juga dysphasia atau aphasia perkembangan jenis ekspresif
F80.2 Gangguan bahasa reseptif
Pemahaman bahasa
rendah, diikuti gangguan bahasa ekspresi dan artikulasi. Disebut juga
dysphasia, aphasia perkembangan jenis reseptif, aphasia Wernicke, dan “tuli
kata-kata”
F80.3 Aphasia didapat dengan epilepsy
[Landau-Kleffner]
Perkembangan bahasa
mulanya normal, lalu kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif menghilang, dengan
inteligensia umum baik. Awalnya disertai oleh kelainan otak atau epilepsi.
Onset biasanya antara usia 3-7 tahun.
F80.8 Kelainan perkembangan bicara dan bahasa
lainnya
Lisping (susah
mengeluarkan huruf ‘s’ dan menggantinya dengan ‘ts’
F80.9 Kelainan perkembangan bicara dan bahasa,
tidak dijelaskan
F81 Kelainan perkembangan keterampilan sekolah
Kelainan dengan
gangguan keterampilan sejak tingkat awal perkembangan. Hal ini bukan karena kurangnya kesempatan belajar,
tidak semata-mata akibat retardasi mental, dan tidak akibat trauma atau
penyakit pada otak.
F81.0 Kelainan khusus membaca - dyslexia
perkembangan
F81.1 Kelainan khusus mengeja
F81.2 Kelainan khusus keterampilan berhitung
F81.3 Kelainan keterampilan sekolah campuran
F81.8 Kelainan perkembangan keterampilan sekolah
lainnya
F81.9 Kelainan perkembangan keterampilan sekolah,
tidak dijelaskan
F82 Kelainan perkembangan fungsi gerak
Kelainan dengan
gambaran utama kegagalan serius perkembangan koordinasi motorik yang tidak bisa
hanya dijelaskan oleh retardasi intelektual umum atau kelainan neurologis baik
kongenital atau didapat.
F83 Kelainan perkembangan campuran
Kategori sisa yang
berisi campuran gangguan perkembangan spesifik bicara dan bahasa, keterampilan
belajar, dan fungsi motoris, tapi tidak ada yang lebih menonjol untuk diagnosa
utama. Kategori ini dipakai kalau gangguan fungsi memenuhi kriteria untuk dua
atau lebih dari F80, F81, dan F82.
F84 Kelainan perkembangan ‘pervasif’
Khas dengan kelainan
interaksi sosial timbal-balik dan pola komunikasi, dan oleh minat dan aktifitas
yang terbatas, berbentuk khas, dan berulang-ulang. Kelainan ini merupakan
bentuk pervasif fungsi seseorang dalam semua situasi.
F84.0 Autisma kanak-kanak
Ditentukan oleh
adanya perkembangan abnormal sebelum usia tiga tahun, dan ciri-ciri khas fungsi
abnormal pada ketiga area psikopatologi (interaksi sosial timbal-balik,
komunikasi, dan tingkah laku yang terbatas, khas dan berulang).
F84.1 Autisma tidak khas
Berbeda dari autisma
kanak-kanak dalam usia onset atau tidak terpenuhinya ketiga set kriteria
diagnosa.
F84.2 Sindroma Rett
Pada anak perempuan,
perkembangan awal normal lalu diikuti penurunan kemampuan bicara, keterampilan
gerakan dan penggunaan tangan, bersama dengan perlambatan pertumbuhan kepala,
biasanya dengan onset antara usia 7-24 bulan.
F84.3 Kelainan disintegrasi kanak-kanak lainnya
Periode perkembangan
yang normal sebelum onset kelainan, diikuti oleh hilangnya keterampilan yang
telah diperoleh dalam waktu beberapa bulan saja.
F84.4 Kelainan overaktif sehubungan dengan
retardasi mental dan gerakan stereotype
Kategori ini
melibatkan anak-anak dengan retardasi mental berat (IQ <34) dengan masalah
utama pada hiperaktifitas dan perhatian, di samping tingkah laku stereotype.
F84.5 Sindroma Asperger
Interaksi sosial
seperti autisma, minat dan aktifitas terbatas, stereotype, dan berulang. Tidak
terdapat retardasi perkembangan bahasa atau kognitif. Kelainan ini sering
berhubungan dengan gerakan yang kacau.
F84.8 Kelainan perkembangan ‘pervasif’ lainnya
F84.9 Kelainan perkembangan ‘pervasif’, tidak
dijelaskan
F88 Gangguan perkembangan psikologis lainnya - agnosia perkembangan
F89 Gangguan perkembangan psikologis yang tidak dijelaskan
F90-F98: Kelainan tingkah laku dan emosi dengan
awal biasanya pada masa kanak-kanak dan remaja
F90 Kelainan hiperkinetik
Onset dini (biasanya
balita), kurangnya usaha aktifitas kognitif, suka berganti aktifitas tanpa
penyelesaian, dan aktifitas tidak teratur dan berlebihan.. Tidak memiliki rasa
sungkan pada orang dewasa, tidak disukai oleh anak lain dan mungkin tersisih.
Terdapat kegagalan fungsi kognitif umum, dan keterlambatan perkembangan motorik
dan bahasa.
F90.0 Kekacauan aktifitas dan perhatian
F90.1 Kelainan hiperkinetik disertai kelainan
perangai
F90.8 Kelainan hiperkinetik lain
F90.9 Kelainan hiperkinetik, tidak dijelaskan
F91 Kelainan perangai (conduct disorders)
Pola kelakuan
dissosial, agresif, atau bandel yang berulang dan persisten, yang lebih berat
daripada kenakalan anak-anak atau remaja, berlangsung lama (enam bulan atau
lebih). Contohnya berkelahi atau menjajah (‘bullying’) yang berlebihan, kasar
pada orang lain atau binatang, merusak harta benda, membakar, mencuri,
berbohong, bolos sekolah dan lari dari rumah, temper tantrum sangat sering dan
berat, dan tidak patuh. Satu saja dari tingkah laku ini, kalau menonjol, cukup
untuk menegakkan diagnosa.
F91.0 Kelainan perangai yang hanya di dalam
keluarga
Agresif (juga
melawan, bandel dan disruptif [menghambat kegiatan]) yang hampir selalu terjadi
di rumah dan dengan anggota keluarga inti atau anggota di rumah tangga.
F91.1 Kelainan perangai tanpa sosialisasi
Khas dengan
kombinasi tingkah laku dissosial atau agresif dengan pervasif yang nyata dalam
hubungannya dengan anak-anak lain.
F91.2 Kelainan perangai sosialisasi
Mencakup tingkah
laku dissosial atau agresif pada orang-orang yang umumnya menyatu dengan baik
dengan teman sebayanya.
F91.3 Kelainan bandel oposisional
Kelainan perangai
khas dengan tingkah laku melawan, tidak patuh atau disruptif tapi tidak
melibatkan tindakan yang lebih ekstrim.
F91.8 Kelainan perangai lainnya
F91.9 Kelainan perangai, tidak dijelaskan
F92 Kelainan campuran perangai dan emosi
Kelompok kelainan
yang khas dengan kombinasi tingkah laku agresif, dissosial atau bandel, dengan
gejala-gejala nyata depresi, cemas atau gangguan emosi lain.
F92.0 Kelainan perangai depresif
Kombinasi kelainan
perangai (F91.-) dengan depresi (F32.-), kehilangan minat akan aktifitas,
menyalahkan diri, dan putus asa. Bisa terdapat gangguan tidur atau selera
makan.
F92.8 Kelainan perangai dan emosi campuran lainnya
Kombinasi kelainan
perangai (F91.-) dengan gejala emosi yang persisten dan nyata seperti cemas,
obsesi atau kompulsi, depersonalisasi atau derealisasi, fobia, atau
hipokondria.
F92.9 Kelainan perangai dan emosi campuran, tidak
dijelaskan
F93 Kelainan emosi dengan onset pada masa kanak-kanak
Terutama pemberatan
terhadap trend perkembangan normal, bukan fenomena abnormal itu sendiri.
Kesesuaian perkembangan digunakan sebagai gambaran kunci dalam perbedaan
kelainan emosi ini dari kelainan neurosis (F40-F48).
F93.0 Kelainan cemas perpisahan pada anak
Didiagnosa kalau
takut berpisah merupakan fokus kecemasan dan kecemasan tersebut muncul pertama
kali pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak.
F93.1 Kelainan cemas fobia pada anak
Ketakutan masa
kanak-kanak yang menunjukkan kespesifikan fase perkembangan dan terdapat pada
sebagian besar anak, tapi derajatnya abnormal.
F93.2 Kelainan cemas sosial anak
Disini terdapat
kekhawatiran akan orang asing dan keengganan sosial, atau cemas kalau bertemu
dengan situasi yang baru, asing, atau secara sosial mengancam. Misalnya kelainan hindaran masa
kanak-kanak dan remaja
F93.3 Kelainan persaingan pada saudara
Kekacauan emosi yang
biasanya mengikuti kelahiran adik diperlihatkan oleh sebagian besar anak yang
masih kecil. Disebut juga “Sibling jealousy”
F93.8 Kelainan emosi kanak-kanak lainnya
F93.9 Kelainan perangai dan emosi campuran, tidak
dijelaskan
F94 Kelainan fungsi sosial yang dimulai di masa kanak-kanak atau
remaja
Merupakan kelompok
yang memiliki kelainan fungsi sosial sama yang dimulai sewaktu perkembangan,
tapi tidak melibatkan semua area fungsi sosial. Distorsi lingkungan yang serius
mungkin memainkan peranan penting dalam etiologi sebagian besar kasus.
F94.0 Mutisme elektif
Keadaan ‘bisu
elektif’ ini khas dengan selektifnya kemampuan bicara yang ditentukan oleh
emosi, misalnya anak mampu berbicara pada satu situasi namun tidak bisa bicara
pada situasi (tertentu) lainnya.
F94.1 Kelainan tambahan bersifat reaktif pada anak
Dimulai pada usia
balita dan khas dengan kelainan persisten hubungan sosial.
F94.2 Kelainan tambahan anak-anak bersifat
disinhibisi (tanpa hambatan)
Merupakan pola
fungsi sosial abnormal yang muncul pada usia balita dan cenderung bertahan
walau pun keadaan lingkungan telah berubah.
F94.8 Kelainan fungsi sosial masa kanak-kanak
lainnya
F94.9 Kelainan fungsi sosial masa kanak-kanak, tidak
dijelaskan
F95 Kelainan Tic
Manifestasi utama
suatu bentuk ‘tic’, yaitu gerakan motor yang tidak berirama atau suara
tiba-tiba dan tanpa tujuan. Tic motorik umum sederhana hanya melibatkan
pengedipan mata, getaran leher, mengangkat bahu, dan mengerutkan wajah. Tic
vokalis umum sederhana mencakup pembersihan tenggorok, menghardik, membau-bau,
dan mendesis.
F95.0 Kelainan tic sementara
Tic berlangsung
kurang dari 12 bulan. biasanya berbentuk kedipan mata, kerutan wajah, dan
getaran kepala.
F95.1 Kelainan tic motor atau vocal kronis
Berupa tic motorik
atau vokal tapi tidak keduanya, yang masing-masing bisa tunggal atau ganda, dan
berlangsung lebih dari satu tahun.
F95.2 Kelainan tic motor atau vocal gabungan [de la
Tourette]
Suatu bentuk
kelainan tic dengan satu atau lebih tic vokal, yang tidak harus muncul
bersamaan. Biasanya makin berat selama remaja dan cenderung menetap di usia
dewasa. Tic vokal sering muncul ganda dengan vokalisasi berulang yang
meledak-ledak, pembersihan tenggorokan, dan menyumpah, dan bisa dengan
penggunaan kata-kata atau ungkapan cabul. Bisa terdapat ‘echopraxia’ dengan
gerakan badan yang bisa saja bersifat cabul (copropraxia)
F95.8 Kelainan tic lainnya
F95.9 Kelainan tic, tidak dijelaskan
F98 Kelainan tingkah laku dan emosi lain dengan awalnya anak atau
remaja
Kelompok kelainan
heterogen yang memiliki onset di masa kanak-kanak. Beberapa dari keadaan ini
mewakili sindroma yang sudah jelas, namun pada yang lain tidak lebih daripada
kompleks gejala yang perlu dimasukkan karena keseringannya dan hubungannya
dengan masalah psikososial, dan karena tidak bisa dimasukkan ke dalam sindroma
lain.
F98.0 Enuresis non-organik
Khas dengan kencing
di luar kesadaran baik siang atau malam, tidak sesuai dengan usia mentalnya,
dan tidak karena kurangnya kontrol ‘bladder’ akibat kelainan neurologis,
serangan epilepsi, atau kelainan struktur saluran kencing.
F98.1 Enkopresis nonorganis
Berak berulang baik
sadar atau tidak, dengan kepadatan normal atau mendekati normal, pada tempat
yang tidak sesuai dengan setting sosiokultural.
F98.2 Feeding disorder
of infancy and childhood
Kelainan pemberian
makanan pada masa bayi atau kanak-kanak kecil.
F98.3 Pica pada bayi dan anak
Memakan zat-zat
bukan makanan (seperti tanah, cat, pecahan kayu, dsb.) secara persisten. Ini
bisa merupakan bagian dari kelainan psikiatrik yang lebih luas (misalnya
autisma), atau tingkah laku psikopatologis terpisah seperti pada klasifikasi
ini.
F98.4 Kelainan gerakan stereotypical
Gerakan sadar,
berulang, stereotype, tanpa fungsi (dan sering berirama) yang bukan bagian dari
keadaan psikiatrik atau neurologis yang dikenal. Gerakan yang tidak
membahayakan diri sendiri antara lain ‘body-rocking’, ‘head rocking’, mencabut
rambut, memutar rambut, ‘finger-flicking’, dan ‘hand-flapping’.
F98.5 Stuttering [stammering] - gagap
Bicara khas dengan
pengulangan atau pemanjangan suara suku kata atau kata, atau oleh seringnya
keraguan atau penghentian yang mengganggu alur irama bicara.
F98.6 Cluttering
Bicara yang cepat dengan gangguan kelancaran, tapi tidak
disertai pengulangan atau keraguan, yang beratnya sampai menyebabkan
pembicaraan tidak bisa dimengerti. Bicara sering salah dan tidak berirama,
dengan getaran-getaran cepat yang biasanya menunjukkan pola kalimat yang tidak
benar.
F98.8 Kelainan emosi dan tingkah laku dengan onset
kanak-kanak dan remaja
F98.9 Kelainan emosi dan tingkah laku dengan onset
kanak-kanak dan remaja
Kelainan tingkah
laku dan emosional yang tidak dijelaskan, dengan onset biasanya di masa kanak-kanak
dan remaja
F99: Kelainan Mental yang Tidak dijelaskan